Hesperian Health Guides

Para penggerak kesehatan menghentikan kolera

Dengan iklimnya yang 6 bulan kering dan 6 bulan basah, sulit bagi penduduk untuk bercocok tanam di pantai Ekuador. Ada beberapa pasar, tetapi pemerintah sedikit sekali menyediakan sekolah, klinik, dan layanan dasar lain seperti air bersih dan selokan. Ketika kolera merebak di tahun 1991, sebagian besar penduduk tidak bersiap diri dan jatuh sakit.

Hari demi hari, warga membawa anggota keluarganya ke klinik pelayanan kesehatan setempat di kota Manglaralto. Mereka umumnya sangat lemah, gemetaran, demam, dan sangat menderita diare yang encer dan dehidrasi (kehilangan banyak sekali air dari tubuh). Para penggerak kesehatan menyadari bahwa ini adalah epidemi kolera, dan banyak warga akan meninggal dunia jika tidak bertindak dengan cepat.

Karena kolera mencemari air minum dan mudah ditularkan dari satu orang ke lainnya, para penggerak kesehatan pun memahami bahwa hanya dengan mengobati warga yang sakit tidak akan menyelesaikan masalah. Untuk mencegah kolera menyebar dengan cepat, mereka harus menemukan cara yang tepat bagi warga Manglaralto dan desa-desa di sekitarnya untuk memiliki air bersih dan toilet/jamban yang sehat.

Para penggerak kesehatan pun mulai mengorganisasikan warga desa yang masih sehat, dan minta bantuan pada kelompok-kelompok setempat. Mereka juga mengajak sebuah organisasi yang memiliki mitra di negara-negara lain untuk menyumbangkan dana guna memulai program darurat penyediaan air bersih dan toilet.

Dengan menamakan programnya Salud para el Pueblo (“Kesehatan bagi Warga” dalam bahasa Spanyol), para penggerak kesehatan membantu mendirikan komite kesehatan masyarakat di tiap-tiap desa. Para anggota komite memilih “penyuluh kesehatan desa” yang dilatih untuk mengajari warga tentang air dan sanitasi (bagaimana membuat dan merawat toilet dan mencuci tangan untuk mencegah penyebaran kuman). Dengan cara ini, para penggerak kesehatan membuat warga desa itu sendiri mengambil tanggung jawab atas bagian yang penting dalam memerangi kolera dan untuk kesehatan lingkungan di desanya.

 woman speaking
Punya uang untuk melakukan sesuatu memang baik, tetapi itu saja tidak cukup. Kita butuh warga untuk mengambil tindakan pencegahan kolera agar tidak menyebar luas.

Bekerja bersama-sama untuk perubahan

Yang pertama kali dilakukan para penyuluh kesehatan adalah mengajari warga tentang bagaimana kolera dan penyakit lain yang menyebabkan mencret bisa menyebar luas. Selanjutnya mereka membantu setiap rumah tangga dan tiap-tiap desa untuk memastikan pasok airnya benar-benar bersih. Mereka juga memberi tahu warga bagaimana cara menghentikan dehidrasi, penyebab utama kematian karena diare, dengan minuman rehidrasi terbuat dari gula dan garam yang dicampurkan ke dalam air mendidih dan diberikan pada anak-anak dan penderita diare lainnya. Mereka mengajar masyarakat di sekoah-sekolah, gereja, pusat-pusat komunitas, dan tempat-tempat masyarakat berkumpul tentang bagaimana mencegah kolera dengan cara mencuci tangan dan membangun dan menggunakan toilet yang aman. Sesudah beberapa pekan, kolera bisa dikatakan hampir hilang sama sekali.

 A group of men build a shelter over a pit toilet.

Tetapi para penggerak kesehatan tahu bahwa mereka punya lebih banyak pekerjaan lagi yang harus dilakukan supaya yakin bahwa kolera tidak menyerang kembali.

Dengan bantuan para insinyur lokal, masyarakat berbondong-bondong membangun sistem saluran air berpipa, untuk memperbaiki toilet di tiaptia desa, dan memastikan bahwa setiap rumah tangga punya air mandi yang cukup. Warga desa itu sendiri yang mengerjakannya, dan mereka juga belajar bagaimana membersihkan dan merawat sistem saluran air dan toilet. Mereka juga memastikan bahwa hewan-hewan dipagari (supaya kotorannya tidak mencemari pasokan air) dan bahwa tandon air tersebut ditutupi untuk mencegah berkembang-biaknya nyamuk pembawa penyakit.

Ketika pekerjaan ini berlangsung, penduduk desa lain pun bergabung. Bermula dengan 22 desa, Salud para el Pueblo berhasil menjangkau 100 desa tidak lama setelah program ini dimulai. Sesudah itu, kolera tidak lagi muncul di kawasan tersebut, dan penyakit lain pun berkurang.

Apa yang membuat pengorganisasian kesehatan ini berhasil?

Salud para el Pueblo sangat sukses dalam upaya menghentikan kolera dan terus berupaya menyelesaikan masalah lain. Hal ini disebabkan para penggerak kesehatan:

  • bekerja dengan penduduk di rumah-rumah mereka. Para penggerak Salud para el Pueblo melatih warga dari rumah ke rumah untuk menjaga pasok air mereka agar tetap bersih. Hal ini membantu tim-tim kesehatan mempelajari masalah lain dan mendapatkan kepercayaan masyarakat.

 A health worker talks with a woman at her home.

  • mengajak banyak kelompok bekerja bersama-sama. Organisasi-organisasi lokal, pemerintah lokal, lembaga swadaya masyarakat (LSM) nasional dan internasional, dan Departemen Kesehatan semuanya bekerja bersama-sama. Hal ini memastikan bahwa sumberdaya dan pengalaman mereka bisa tersedia untuk menghentikan epidemi. Karena mereka bekerja bersamasama, hal ini menghindarkan masalah satu organisasi mengerjakan hal-hal yang sama atau bertentangan dengan yang dilakukan organisasi lain.
 A large group of villagers and a health worker meet in a room with a sign reading "Community health depends on clean water."
  • memandang warga sebagai sumberdaya paling penting. Mereka tidak menyalahkan warga desa atas masalah-masalah kesehatan yang muncul, dan mereka juga tidak hanya bergantung pada bantuan dari luar masyarakat. Sebaliknya, mereka memanfaatkan pengalaman warga masyarakat sendiri untuk bekerja mencapai tujuan bersama. Mereka memanfaatkan permainan, wayang, nyanyian, diskusi, dan kegiatan pendidikan yang popular untuk menarik minat masyarakat agar saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Aktivitasaktivitas ini mampu menumbuhkan kepercayaan diri dan motivasi karena ternyata pengetahuan dan partisipasi mereka sendiri bisa menyelesaikan masalah-masalah kesehatan yang serius.

Bagaimana visi kesehatan lingkungan mulai tumbuh

Dengan berjalannya waktu, para penggerak kesehatan juga menyadari bahwa serangga pembawa penyakit berkembang biak di semak-semak dan timbunan sampah. Mereka mengadakan pertemuan masyarakat tentang perlunya membersihkan jalan dan membersihkan timbunan sampah. Tiap-tiap desa membentuk sebuah kelompok “penggerak kesehatan lingkungan” yang bertugas mengatur hari-hari pengambilan sampah bagi setiap orang. Dengan bantuan seorang insinyur, para penggerak kesehatan lingkungan tersebut mengubah timbunan sampah menjadi tempat yang lebih aman yang dinamakan tempat pembuangan akhir/TPA. Beberapa tahun kemudian, para penggerak kesehatan mulai berbicara tentang program daur-ulang untuk mengurangi jumlah sampah di TPA. Ketika sebuah lembaga internasional menghibahkan sebuah truk berukuran besar untuk mengangkut sampah ke kota, mereka mampu melakukan hal itu. Uang yang dihasilkan dari mendaur-ulang bisa menutupi kebutuhan bahan bakar dan biaya-biaya perawatan truk.

Hingga tahun 1996, Salud para el Pueblo telah membangun ratusan toilet, memasang saluran air berpipa, mengeduk dua TPA, mengawali program daur-ulang, dan memulai membantu masyarakat menyiapkan kebun komunitas.

 People using a recycling center.

Kemudian pada tahun 1997 malapetaka pun datang. Badai yang dikenal sebagai El Niño menghantam pantai Ekuador. Untuk waktu enam bulan, hujan dan angin kencang berlangsung hampir setiap hari. Angin tersebut menumbangkan pepohonan, dan hujan mengubah kawasan perbukitan menjadi tanah longsor, dan lembah-lembah pun terisi air sungai berlumpur. Sungai-sungai meluap dan mengubah alirannya, menghancurkan seluruh desa. Toilet-toilet, pipa-pipa air, dan upaya bertahun-tahun kerja keras pun musnah.

Dan ketika bukit-bukit longsor, kerja Salud para el Pueblo pun hampir lenyap tanpa bekas. Untuk memahami mengapa hal ini bisa terjadi, kita harus memahami sejarah kawasan tersebut.

Bukit tanpa pepohonan seperti rumah tanpa atap

 Rain over a thick forest.
sebelum
 A dry landscape where trees have been cut down.
sesudah

Dulunya, bukit-bukit dan pegunungan di pantai Ekuador dinaungi hutan tropis yang lebat. Pohon bakau tumbuh ketika air segar dari sungai bercampur dengan air laut asin. Bakau melindungi pantai dari badai dan menjadi habitat bagi banyak jenis ikan dan khewan kerang-kerangan. Pohon bambu tumbuh di sepanjang aliran sungai, yang menjaga tepiannya agar tidak rusak dan tererosi. Hutan banyak ditumbuhi pohon ceibo raksasa yang memberi keteduhan. Akarakarnya yang menghunjam dalam mampu menahan air dan tanah. Pohon carob tumbuh di lereng-lereng curam, sehingga mampu menahan tanah dan mencegah longsor lereng-lereng bukit. Daun-daun pepohonan yang gugur memperkaya lapisan tanah.

Hutan adalah rumah bagi manusia, dan juga rusa, burung, serangga, kadal, dan satwa lain yang tak terhitung jumlahnya. Masyarakat membangun rumah-rumah mereka dengan bambu dan daun-daun palem. Satwa dapat diburu, buah berri dapat dicari dan dimakan, serta air dan tanah subur yang dijadikan kebun dan pekarangan.

Tetapi, lebih dari 100 tahun, banyak sekali pohon yang ditebang untuk keperluan pembangunan jalan kereta api dan rumah. Kemudian, sebuah perusahaan dari Jepang datang dan menebangi sebagian besar pepohonan yang tersisa, memanfaatkan rel kereta api untuk mengangkut kayu ke pelabuhan di pantai, untuk selanjutnya mengapalkannya ke Jepang. Karena kayu pohon-pohon hutan tropis sangat kuat, mereka bisa menjualdengan harga yang sangat tinggi. Ketika pohon habis, perusahaan tersebut pun pergi. Rel kereta api pun menjadi tak terawat, dan dengan berjalannya waktu ia terbengkelai.

Sekarang, pegunungan di pantai Ekuador tampak seperti gurun pasir. Perbukitannya gersang tanpa teduhan. Di musim kering, lapisan tanah beterbangan dan udaranya penuh debu. Di musim hujan, lapisan tanah menjadi berlumpur dan lereng-lereng perbukitan longsor. Ketika badai El Niño menerpa di tahun 1997, tidak ada pepohonan yang bisa melindungi desa dari kekuatan yang merusak tersebut.

Menemukan persoalan

Ketika melihat bagaimana hujan menyapu bersih seluruh desa – sekaligus menghanyutkan sistem pipa air dan toilet – para penyuluh kesehatan Salud para el Pueblo langsung sadar bahwa mereka harus mencari cara lain untuk mengatasi bencana-bencana semacam ini di masa yang akan datang. Membangun saluran pipa air dan mempromosikan sanitasi yang aman hanya menyelesaikan sebagian persoalan.

Ada ungkapan yang terkenal di sekitar desa: bukit tanpa pepohonan seperti rumah tanpa atap. Ini berarti pepohonan melindungi bukit dan mencegah erosi yang diakibatkan oleh angin dan hujan, persis seperti atap yang melindungi manusia di dalam sebuah rumah. Para penyuluh kesehatan mulai menyadari bahwa mempromosikan penanaman pohon dan perlindungan pada sumberdaya alam, ternyata sama pentingnya dengan mempromosikan kesehatan – karena keduanya memang satu dan serupa!

Dengan pemahaman seperti ini, para penggerak kesehatan pun memulai proyek penanaman pohon. Tetapi, beberapa penduduk desa tidak ingin melakukan penanaman pohon, seperti yang diutarakan oleh penduduk bernama Eduardo. “Kerjanya terlalu banyak,” tegas Eduardo. “Mereka hanya ingin kita melakukan pekerjaan yang sia-sia.” Ia berusaha meyakinkan beberapa penduduk desa untuk menentang para penyuluh kesehatan.

“Kerjanya terlalu banyak,” tegas Eduardo. “Mereka hanya ingin kita melakukan pekerjaan yang sia-sia.” Ia berusaha meyakinkan beberapa penduduk desa untuk menentang para penyuluh kesehatan.

Seorang penyuluh kesehatan bernama Gloria, mengumpulkan penduduk di desa Eduardo tinggal dan mengorganisasikan aktivitas yang dinamakan “Tetapi mengapa…?” untuk membantu setiap orang melihat lebih teliti mengapa mereka kehilangan sistem pipa air dan toilet mereka.
 A large group of villagers discuss with a health worker.
Mengapa sistem air dan sanitasi kita hancur?
Tetapi mengapa bisa hanyut disapu bersih?
Karena hujan mengubah lereng bukit menjadi lumpur dan desa-desa pun hanyut ke dalam sungai, merusakkan pipa air dan toilet.
Karena keduanya hanyut tersapu hujan lebat.
Tetapi mengapa bukit-bukit longsor?
Karena seluruh pohon ditebang dan dijual untuk kayu bangunan.
Tetapi
mengapa
pohonpohon ditebang?
Karena penduduk desa perlu uang.
 A man speaking.
Menanam pohon terlalu banyak menyita waktu dan tenaga sementara kita tidak punya tanaman atau uang. Kita butuh sesuatu yang bisa memberi makan kita sekarang, bukan 10 tahun lagi!

Dengan terus mengajukan pertanyaan “Tetapi mengapa?”, Gloria membantu penduduk desa melihat semua cara bagaimana masalah-masalah kesehatan terkait dengan lingkungan mereka. Di akhir diskusi, sebagian besar penduduk desa setuju bahwa menanam pohon ternyata memang penting untuk mencegah erosi sekaligus melindungi lapisan tanah.

Belajar menjadi penggerak kesehatan lingkungan yang efektif

Setelah kembali ke pusat pelayanan kesehatan, Gloria sedikit berkecil hati. “Meskipun mereka memahami pentingnya arti pohon, mereka ternyata masih enggan menanamnya,” begitu pikir Gloria. “Bagaimana saya bisa meyakinkan mereka?” Tak lama kemudian, seekor lebah masuk ke ruangan dan mengejutkannya. Gloria mencoba mengusir lebah tersebut, dan kemudian ia melihat lebah tersebut keluar lewat jendela dan hinggap pada sekuntum bunga berwarna merah dari pohon carob. Rupanya ini memberinya gagasan baru.

Esoknya, Gloria mencoba mengumpulkan penduduk lagi. Ia kemudian mengajukan pertanyaan lain, dan Eduardo lah orang pertama yang menjawab pertanyaan tersebut.

 Villagers speaking with a health worker.
Anda harus menghasilkan lebih banyak uang untuk meperbaiki kehidupan Anda sekarang, bukan untuk 10 tahun lagi. Anda juga percaya bahwa menanam pohon memang penting. Apa ada cara untuk menghasilkan uang dari pohon?
Ya, tentu saja. Kita dapat menebang pohon dan menjual kayunya.Tapi ini perlu 10 tahun karena pohon perlu waktu selama itu untuk tumbuh.

Sementara penduduk desa lainnya berpikir keras, dan inilah percakapan mereka:

 Villagers speaking with a health worker.
Kita bisa membuat bantal katun dari pohon katun sutra dan menjualnya.
Kita bisa memelihara ternak yang makan kelopak pohon carob.
Kita bisa membuat kerajinan tangan dari biji pohon palem tagua.
Itu semua adalah gagasan yang luar biasa! Bahkan memberi kita alasan tambahan untuk menanam pohon. Saya sendiri punya ide yang ingin saya bagi dengan anda. Apakah ada yang suka madu?

Gloria berkata, “Jika kita memelihara pepohonan yang bunganya disukai lebah, kita bisa merintis proyek peternakan lebah dan menjual madunya. Hanya perlu waktu satu tahun agar bunganya mulai mekar. Penduduk desa menyukai gagasan tersebut. Bahkan Eduardo pun setuju untuk menanam pohon kalau ia bisa belajar bagaimana menghasilkan madu.

Eduardo menahan Gloria ketika hendak pergi. Ia berkata kepada Gloria, “Pada saat cucu saya sakit diare, kami membuatkannya minuman yang terbuat dari kelopak pohon carob. Ini jauh lebih manjur dari pada obat-obatan yang diberikan dokter. Jadi, mungkin akan baik bagi kita kalau menanam pohon carob. Kemudian kita bisa membuat minuman obat dan menambahkan madu untuk sebagai pemanis.”

Gloria berbalik ke pusat pelayanan kesehatan dan sangat bergairah dengan proyek baru ini. Setelah memikirkan bagaimana pertemuan tersebut berlangsung, Gloria menyadari bahwa tidak akan banyak gunanya memberitahu penduduk desa apa yang mesti mereka lakukan. Ia harus belajar memahami melalui mata mereka, mendengarkan gagasan, dan memahami kebutuhan mereka jika ia ingin menjadi penggerak kesehatan lingkungan yang efektif.


Halaman ini telah diperbarui pada tanggal:17 Nov 2022